LAPORAN
KEGIATAN IMPLEMENTASI PERMAINAN MODIFIKASI DI SPS (SATUAN PAUD SEJENIS) CEMPAKA 10 TERINTEGRASI DENGAN POSYANDU

  1. Deskripsi Tempat Kegiatan Implementasi Permainan Modifikasi
Tempat kegiatan ini adalah merupakan salah satu layanan pendidikan anak usia dini yang telah berdiri sekitar tangal 28 maret tahun 2008. Bernama SPS (Satuan PAUD Sejenis) Cempaka 10 terintegrasi dengan posyandu. Dengan ijin operasional: No. Ijin: 421.10/5831-stkrt/2011. Beralamat di jalan Kembang Sepatu, RT1/10, kelurahan Samboja, kecamatan batununggal Bandung. Dimana keadaan lokasi tempatnya terletak di samping jalan raya yang berdekatan dengan pasar kosambi sehingga selalu ramai dengan lalulalang kendaraan bermotor. SPS Cempaka 10 ini memiliki visi menjadikan kober yang berwawasan lingkuangan kreatif, mandiri, berbudi pekerti, berakhlak mulia dalam proses pembelajaran. Serta memiliki misi menjadikan PAUD yang berwawasan lingkungan, menjadikan PAUD yang kreatif dan mandiri, menanamkan kedisiplinan, kejujuran dan berbudi pekerti.
Bangunan PAUD ini menjadi multi fungsi untuk berbagai kegiatan RW setempat, untuk kegiatan PKK, Posyandu dan Kober itu sendiri. Sedangkan untuk tenaga kepegawaian dan pendidik yang tengah ada adalah kepala PAUD yaitu ibu Yuli Purwati, M.Pd. Sekretaris ibu Heni Rohaeni, bendahara ibu Komalasari. Kemudian tenaga pendidik atau guru kelompok A yaitu ibu Watrimah dan ibu Sri Rahayu. Untuk kelompok B yaitu ibu Lisdaryanti, ibu Mike Adiwiraya, serta ibu Teti Kurniati. Yang mana seluruh tenaga guru merupakan tamatan SMU/sederajat.
Jumlah peserta didik Jumlah murid atau siswa saat ini yaitu tahun ajaran 2013-2014, terdapat 2 kelas diantaranya kelas PAUD A usia anak 3-5 tahun, dengan jumlah siswa 17 orang anak yaitu 9 orang anak perempuan dan 8 orang anak laki-laki. Kelas PAUD B usia anak 5-6 tahun, dengan jumlah siswa 17 orang anak yaitu 7 orang anak laki-laki dan 10 orang anak perempuan.

  1. Hasil Observasi Kegiatan Implementasi Permainan Modifikasi
Ketika kegiatan yaitu diadakan pada hari senin tanggal 2 Desember 2013, yang diimplementasikan pada satu kelas PAUD B atau kelas PAUD besar yang berjumlah 17 orang anak. Anak-anak masuk pada pukul 08.00 – 09.30. Pada saat kegiatan dilakukan anak dapat terkondisikan dengan baik, sehingga kondisi pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Pembukaan kelas dimulai dengan berbaris di teras ruangan, bu guru menyiapkan aktifitas berbaris dengan lagu “lonceng berbunyi”, kemudian anak-anak masuk kelas dengan diperiksa kuku terlebih dahulu karena hari senin merupakan hari pertama masuk sekolah dan dibiasakan untuk periksa kuku anak.
Setelah aktifitas berbaris tersebut, kemudian anak-anak dan bu guru duduk melingkar dan bu guru memandu doa sebelum belajar. Setelah itu anak-anak boleh bermain sambil belajar, kegiatan hari ini difokuskan pada permainan modifikasi yang dipersiapkan oleh observer.
Untuk yang pertama permainan sedotan karet oleh Erna Roostin, nama permainan sedotan karet, jumlah pemain satu kelompok terdiri dari 5-8 orang, usia anak 3 – 5 tahun, media/peralatan karet gelang, sedotan dan wadah untuk meletakkan karet sebanyak jumlah kelompok yang ada, durasi/waktu 15-25 menit, dengan langkah-langkah permainan sebagai berikut:
  1. Membentuk dua atau lebih kelompok/group, satu kelompok/group terdiri dari 5-8 orang.
  2. Setiap anggota kelompok memegang satu sedotan dan satu karet gelang.
  3. Membuat garis start dan finish, dengan menyediakan area berjalan untuk peserta, garis start dan fisish panjangnya kira-kira 3-5 meter atau disesuaikan dengan kemampuan anak yang akan bermain.
  4. Peserta berbaris dengan tertib, setiap sedotan di letakkan di mulut atau bibir anak, kemudian karet gelang di pindah-pindahkan dengan cara digelang pada sedotan setiap anak.
  5. Aturan dari permainan tidak dipegang dengan tangan namun di gerakkan oleh mulut atau bibir yang tertancap sedotan.
  6. Permainan selesai setelah semua anggota mendapat giliran menyimpan karet gelang pada wadah yang diletakkan digaris finish.
  7. Permainan bersifat berlomba, sehingga kelompok yang lebih banyak menyimpan karet padah wadah di garis finish itulah yang lebih unggul dari kelompok lainnya.
Adapun konsep dari manfaat permainan ini adalah untuk perkembangan motorik dapat melatih keseimbangan gerak otot-otot mulut dan otot kasar yaitu keseimbangan berjalan dengan membawa karet pada sedotan untuk sampai pada wadah karet di area finish. Untuk perkembangan sosial anak dapat melatih interaksi anak dengan temannya serta melatih kerjasama antar anak dan kerjasama antar kelompok.

Kemudian permainan kedua dengan konsep permainan oleh Elia, nama permainan: Galah pic man, Jumlah pemain: 5 sampai 10 orang, kelompok usia: 4 sampai 5 tahun, media/peralatan: Lapangan, alat tulis untuk menandai garis lapangan, kertas warna merah dan putih, durasi/waktu: 5 menit sampai 30 menit. Dengan langkah-langkah permainan sebagai berikut:
Permainan sebaiknya dilaksanakan pada lapangan atau di luar ruangan. garis batas bisa dibuat dengan kapur/spidol atau tali. Bagi lapangan menjadi dua. Lalu pada masing-masing bagian siapkan garis bebas dekat sisi terluar lapangan. Pelaksanaan permainan: anak dibagi menjadi dua regu. Regu merah dan regu putih dengan menempelkan kertas warna pada anggota badan anak. Bariskan kedua regu di tengah lapangan. Masing-masing anak berhadapan satu sama lain. Tugas setiap regu adalah memperhatikan/mendengarkan nama dari warna regu yang disebutkan guru. Bila guru menyebut warna, meee...rah, berarti regu merah harus segera berlari meninggalkan tempatnya menuju garis bebas. Sedangkan baris Putih berusaha menangkap pasangan dari baris merah sebelum melewati garis bebas. Dan begitu pula sebaliknya untuk baris putih. Pemenangnya adalah regu yang anggotanya paling sedikit tertangkap.
Dengan konsep manfaat permainan yaitu untuk perkembangan fisik motorik mengajak anak untuk banyak bergerak dan berlari melatih koordinasi otot kaki dan tangan. Untuk perkembangan sosial dapat melatih anak untuk meningkatkan rasa empati pada teman dengan kekompakan serta kerjasama antar kelompoknya.Dan untuk perkembangan daya pikir, anak akan dikenalkan dengan berbagai macam warna atau dapat juga nama warna diganti dengan huruf atau angka.
Permainan ketiga yaitu kukudaan dengan manfaat untuk melatih keterampilan anak dalam bermain peran, mengenallkan permainan tradisional dengan menggunakan bahan alam, melatih imajinasi anak.

  1. Pembahasan Kegiatan Implementasi Permainan Modifikasi
  1. Permainan Galah Pic Man
       Pada tahap pertama anak-anak dikondisikan terlebih dahulu untuk memperhatikan penjelasan bu guru mengenai cara bermain galah ini, bu guru menjelaskan bagaimana aturan main dan cara melakukan permainan galah pic man ini, bu guru memperagakan terlebih dahulu untuk memberikan contoh bagaimana cara bermain. kemudian anak-anak di bagi menjadi dua regu, regu merah dan regu putih untuk membedakan regu merah dan putih setiap anak di berikan kertas merah atau putih sesuai dengan kelompoknya, dengan menempelkan kertas warna pada dada anak.
         Permainan akan di mulai setelah anak-anak diberikan penjelasan mengenai garis atau batas bergerak atau untuk berlari pada setiap kelompok, bu guru menyediakan garis tengah dengan cara membatasinya oleh karpet yang tersedia di dalam kelas, garis tengah merupakan start anak-anak untuk memerankan permainan. Anak-anak diberitahukan garis finish atau area pemenang galah pada setiap kelompok yaitu kelompok merah area finish nya di sebelah pojok kanan dan sebaliknya. Pada tahap awal permainan terjadi keributan dikarenakan ada anak yang belum memahami mana kawan kelompoknya dan mana lawan bermainnya.
         Disini dapat terlihat anak mana yang dapat memahami perannya yaitu termasuk kelompok merah atau putih, permainan ini diperankan dengan menggunakan aba-aba bu guru untuk anak-anak bergerak bermain seperti contohnya adalah yang pertama bergerak adalah kelompok warna merah setelah bu guru memberikan aba-aba meeeraaah..., anak-anak kelompok merah bergerak lari ke tempat area sudut kanan, dan anak-anak kelompok putih mencoba untuk menjaganya atau menghalang-halanginya.
      Pelaksanan di tempat implementasi yaitu SPS PAUD Cempaka 10, permainan ini dapat dilakukan di dalam ruangan dengan aturan anak-anak tidak terlalu banyak berlari jauh, jumlah kelompok yang ada di batasi menjadi 5 orang, setelah percobaan sebanyak 17 anak bemain namun kemudian keadaan tidak kondusif dengan terlihat ada anak yang terjatuh karena ruangan yang kurang luas, setelah tahap percobaan tersebut kemudian permainan di mulai kembali dengan mengurangi jumlah pemain, anak yang lain menjadi pemain sesi berikutnya.
          Permainan dapat berjalan baik setelah bu guru memberikan giliran untuk bermain pada setiap anak, anak yang sedang bermain terlihat senang dan ceria dapat memerankan permainan dengan baik, kelompok merah pada tahap pertama lebih dahulu mencapai finish. Sehingga dijelaskan oleh bu guru kelompok mana yang lebih banyak mencapai ke area pojok finish.Hasil dari implementasi permainan ini kurang cocok dilakukan di dalam ruangan, dikarenakan anak-anak kurang bebas bergerak sehingga kurang terlihat mana yang telah tertangkap dan mana yang bisa lolos ke area pojok, karena ada anak yang masih kurang memahami aturan bermain yaitu apabila tertangkap maka harus diam tidak meneruskan ke area pojok, namun masih terlihat ada anak yang memaksa ke area pojok meskipun tertangkap. Hal ini menunjukkan pemahaman kejujuran anak kurang mengerti atau anak tidak mau mengikuti aturan bermain hal ini menunjukkan anak kurang berdisiplin. Namun hal ini bukan merupakan penilaian yang akurat dikarenakan obervasi atau praktek permainan merupakan tahap pengenalan, jadi diperlukan tindak lanjutan untuk mengimplementasikan permainan ini untuk menilai sejauh mana anak dapat mengerti dan memahami ari dari kejujuran dan kedisiplinan.
  1. Permainan sedotan karet
Melihat dari hasil observasi implementasi permainan ketiga permainan tersebut tergambarkan kondisi prilaku bermain anak kelas PAUD A sangat senang dan ceria, pada awal permainan sebagian anak masih dalam tahap adaptasi dimana anak belum menguasai permainan atau belum memahami aturan bermain, namun setelah beberapa saat anak terlibat bermain mulai terlihat anak-anak senang dan mampu dengan baik memainkan permainan tersebut.
Implementasi permainan kedua yaitu sedotan karet, pada permainan ini anak-anak diberikan pengarahan terlebih dahulu cara-cara bermainanya serta aturannya, kemudian diberikan contoh praktek cara bermainnya. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri 8 orang anak, kemudian berbaris berada di garis strat dan masing-masing memegang sedotan, kemudian permainan dimulai dengan diberikan aba-aba oleh bu guru.
Permainan dilaksanakan di dalam ruangan, pada awal permainan dilakukan anak-anak memerlukan bantuan bu guru bagaimana memainkan sedotan tersebut untuk dapat memasukkan karet kedalamnya dengan hasil pindahan dari teman bermainnya, tahap awal bermain anak-anak tampak kesulitan untuk memindahkan karet dari sedotan ke sedotan temannya tanpa bantuan tangan atau bantuan bu guru.
Namun kemudian setelah beberapa kali anak mencoba anak-anak menjadi antusias dan semangat untuk bisa melakukan pemindahan karet dari sedotan yang di letakkan pada mulutnya ke sedotan temannya. Sambil ceria ketawa anak-anak lain dengan sabar menunggu giliran untuk mendapatkan pindahan karet tersebut, sempat beberapa kali karet terjatuh kemudian diambil dan diulang kembali. Permainan berlanjut sampai semua anak mendapat giliran memasukkan karet pada wadah di garis finish.
Bu guru yang menemani terlihat lebih greget atau kurang sabar menunggu karet bisa pindah dari sedotan satu anak ke anak lain yang membutuhkan waktu agak lama dibanding dengan anak lainnya, yang artinya setiap kemampuan anak untuk langsung bisa memainkan terdapat perbedaan, ada yang cepat bisa dan ada yang memerlukan waktu lebih lama untuk bisa. Karena diperlukan kerjasama yang baik antar temannya ketika terjadi pemindahan karet dari sedotan tersebut maka dapat terlihat mana anak yang mampu bekerjasama dengan temannya dan mana yang kesulitan untuk kerjasama dengantemannya.
Untuk anak yang kesulitan kerjasama dengan temannya terlihat membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berhasil memindahkan karet dari sedotannya, misalnya untuk anak yang kurang bisa kerjasama terlihat kurang mampu memposisikan sedotan untuk sesuai tinggi rendahnya agar sampai karet tersebut pindah pada temannya, ada juga yang tidak mau bergantian menggerakkan sedotan, karena keberhasilan pemindahan karet dari sedotan pada mulut anak yang satu ke mulut anak yang lain memerlukan sikap anak yang mau bergantian menggerakkan sedotan ada giliran untuk bergerak dan ada giliran untuk menunggu atau mendiamkan sedotannya.
Permainan terlihat berhasil setelah beberapa anak mampu menyimpan karet ketempat finish, kemudian berlanjut sampai semua anak mendapatkan giliran menyimpan karet pada wadah di garis fisnish.
Evaluasi permainan ini adalah dimana permainan dapat dilakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan disesuaikan degan kondisi yang ada. Pada observasi di SPS Cempaka 10, permainan dilakukan di dalam ruangan yang tidak begitu luas, namun bu guru menyiasatinya dengan sebaik-baiknya mengkondisikan anak agar tetap bisa tertib bermain.
  1. Permainan Kukudaan
Untuk permainan yang ketiga yaitu permianan kukudaan, permainan ini diimplementasikan pada kelompok usia 3-4 tahun atau kelompok usia kecil. Permainan dimulai setelah bu guru memperkenalkan alat/bahan dari permainan ini yaitu pelapah pisang dan tali rapia. Pembuatan kukudaannya sudah disediakan oleh bu guru sehingga anak-anak tidak membuat sendiri kukudaannya, namun bu guru memberikan peragaan cara membuat kukudaan ini, setelah meragakan cara membuat kukudaan, bu guru mengkondisikan anak-anak kembali untuk duduk melinngkar, untuk mempraktekkan permainan secara bergantian anak-anak di pilih oleh bu guru dengan permainan bernyanyi yang menggunakan alat untuk memilih siapa yang lebih dahulu memainkan kukudaan.
Anak-anak memainkan permainan kukudaan dengan tertib bergantian, setiap anak memainkan kukudaan bersamaan dengan bernyanyi lagu dolanan dan kuda lumping bersama-sama dengan anak-anak lainnya. Terlihat anak-anak senang dan ceria melihat temannya sedang menunggang kukudaan ditengah lingkaran.
Permainan selesai setelah semua anak mendapat giliran untuk menunggang kukudaan dan bernyanyi, kemudian bu guru memberikan penjelasan bahwa permainan ini bisa anak-anak mainkan kembali dikemudian hari.

Comments

Popular posts from this blog

The Importance Outdoors Activities For Children (cont.)

Control your heart and your feelings...