STEREOTIPE,
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN GENDER
Stereotip
Adalah: kategori luas yang mencerminkan kesan umum dan kepercayaan
kita mengenai perilaku apa yang sesuai untuk laki-laki dan
perempuan.(Santrock: 97).
Artinya
juga dapat dikaitkan dengan pengertian dari penampilan, perilaku dan
sikap dari kedua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.
Diantara nya: (Harlock:156)
- Pengamatan perilaku
- Pakaian yg dipakai kedua jenis
- Jawaban atas pertanyaan
- Alat bermain
- Perlakuan oleh orang lain
- Kesempatan untuk belajar
- Disiplin
- Pendidikan seks
- Media massa.
Yang termasuk pada
Stereotip peran pria dan wanita ini adalah konsep spesifik mengenai
penampilan yang disetujui, termasuk bentuk tubuh, ciri wajah, dan
pakaian, pola perilaku, cara berbicara, cara menyatakan perasaan dan
emosi , cara mencari nafkah yang disetujui dan banyak ciri lainnya.
Sekali terbentuk, stereotip berlaku sebagai standar yang digunakan
kelompok sosial untuk menilai apakah seorang individu sesuai atau
tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Kemudian akan diperlakukan
sesuai dengan penilaian tersebut. Stereotip jg bertindak sebagai
standar evaluasi diri, apakah sesuai dengan jenis kelaminnya dg
melihat seberapa jauh sifatnya memenuhi standar yang ditentukan
stereotip. (Harlock; 156-191)
Secara umum, kesenjangan kesetaraan gender di dunia
mengecil pada tahun 2013, dengan 86 negara dari total 136 negara yang
disurvei -dan mencerminkan 93% penduduk dunia- memperlihatkan
peningkatan dalam kesetaraan gender. Stereotip gender didasarkan pada
keyakinan fundamental bahwa pria lebih superior dari wanita karena
superioritas fisik dan fisiologisnya. Keyakinan ini meluas ke seluruh
bidang kemampuan dan kecakapan lainnya. Perubahan budaya semenjak
pergantian abad sekarang secara bertahap menyebabkan perubahan dalam
setereotip gender yang telah menetap (persistent) sejak berabad-abad.
(wikipedia.com)
Sekarang terdapat dua pola stereotip gender yang
diterima secara meluas yaitu stereotip tradisional, berdasarkan
prinsip fundamental superioritas pria, dan egaliterian (sederajat),
berdasarkan prinsip fundamental bahwa perbedaan antarjenis lebih
kecil dari yang dikira sebelumnya dan bahwa perbedaan ini relatif
kurang penting dalam budaya sekarang, saat teknologi telah
menggantikan kebutuhan akan kekuatan fisik. (Harlock: 162-165)
Anak-anak belajar arti stereotip gender dalam pola
yang dapat diramalkan yang mengandung lima tahapan, yang berjalan
paralel dengan perkembangan kognitifnya. Pada waktu mereka masuk
kelas satu, konsep peran gender mereka telah berkembang dengan baik.
Penerimaan stereotip gender sebagai perilaku tidak terjadi secara
otomatis ketika anak belajar arti stereotip. Hanya bila anak dapat
melihat keuntungan pribadi dalam penerimaannya, mereka mempunyai
motivasi yang diperlukan untuk menerimanya. Anak-anak belajar mengisi
peran sekks-penentuan peran seks -secara dini. Proses belajar ini
mengikuti pola yang dapat diramalkan. Orang tua, guru, dan teman
sebaya memegang peran yang dominan dalam pola ini. Penentuan peran
seks terjadi lewat tiga metode belajar yang umum peniruan,
identifikasi dan pendidikan. Pengaruh penentuan gender sangat luas
mencakup bidang-bidang seperti perilaku, misalnya perpecahan
antarjenis, antagonisme seks, deskriminasi terhadap anak yang tidak
berperan sesuai dengan jenis kelaminnya, penentuan seks objek dan
perilaku, tingkat aspirasi dan upaya berprestasi. Dari semua pengaruh
penentuan gender, yang paling penting adalah pengaruh pada tingkat
aspirasi dan pola upaya berprestasi karena pengaruhnya menetap
sementara pengaruh yang lain, untuk bagian terbesar, hanya sementara.
(Doris Pronin Fromberg and Doris Bergen: 41-45)
Pada
usia 2, 4, 6 tahun. Sudah ada stereotipe gender dengan melihat peran
ibu dan ayah.
Usia
7 dan 8 tahun memiliki pengtahuan yang cukup mengenai aktivitas mana
yg berkaitan dg laki-laki & perempuan. (Santrock : 97).
Stereotip Gender
memiliki 3 Aspek: (Harlock :157)
- Aspek Kognitif: mencakup persepsi, anggapan dan harapan orang dari kelompok jenis kelamin pria dan wanita.
- Aspek Afektif: mencakup sikap ramah maupun tidak ramah umum terhadap objek sikap dan berbagai perasaan sikap dan berbagai perasaan spesifik yang memberi warna emosional pada sikap tersebut. Perasaan ini mungkin berupa kekaguman dan simpati atau rasa superior, iri hati, dan rasa takut.
- Aspek Konatif: mencakup anggapan mengenai apa yang harus dilakukan berkenaan dengan kelompok yang bersangkutan. Contohnya pria memiliki tugas dan tanggung jawab atas tugas-tugas yang berkaitan dengan kekuatan fisik, sedangkan wanita harus dilindungi dari setiap tanggung jawab yang mungkin membahayakan kondisi fisik.
Untuk anak-anak
usia dini, pada tahun pertama anak sudah belajar mengidentitas diri
mereka sendiri dan orang lain mengenai jenis kelaminnya. Identitas
ini sesuai dengan lingkungan sosial dimana mereka berada. Mereka
biasanya sudah memiliki standar dan parameter dalam kategori sosial
mereka dalam melabelkan gender pada anak-anak balita mereka. (Doris
Pronin Fromberg and Doris Bergen: 45).
perbedaan
fisik, Anak Laki-laki: Hormon
Testosteron memicu produksi lipoprotein yg memiliki kerapatan
rendah,menghambat pembuluh darah infeksi
mendorong liver utk memproduksi byk
kolestrol baik. Pembuluh darah perempuan lbh elastis dibanding
laki-laki. Anak perempuan: Terjadi pembuahan, harapan hidup yg lebih
tinggi di banding anak laki-laki hormon Estrogen kekebalan tubuh,
tahan infeksi mendorong liver utk memproduksi byk kolestrol baik.
Pembuluh darah perempuan lbh elastis dibanding laki-laki. (Santrock:
98-99).
Karena telaah
terhadap penentuan gender baru saja dilakukan, baru sejumlah kecil
bahaya di bidang ini telah diteliti dengan cukup luas untuk
menghasilkan bukti-bukti mengenai pengaruhnya yang serius dan
berjangkau luas. Bukti-bukti yang ada sekarang menunjukkan bahwa
pengaruh ini serius karena bersifat menetapp dan sebab itu,
mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial individu sepanjang
hidupnya. Bahaya terhadap penyesuaian pribadi dan sosial yang penting
akibat penentuan gender yang telah diteliti adalah antara lain:
pengaruh penentuan gender yang luas pada kelompok sosial, kerancuan
tentang stereotip gender dan penentuan gender yang disetujui,
pengaruh media masa pada stereotip gender, pengaruh pada kepribadian
dan ketetapan pengaruh penentuan gender. (Harlock: 191).
Daftar
Pustaka
Santrock
john W, Perkembangan Anak, 2romberg and do002, 96-102
Harlock,
perkembangan anak, 156- 191
Doris Pronin
Fromberg and Doris Bergen, Play From Birth to Twelve, 2006, 41-45
Wikipedia.com
Stereotypes gender
Comments
Post a Comment